Kabar Bola
facebook twitter rss feed Kabar24

Piala AFC U-19: Hitungan Antar-Runner Up, Seri Lawan Korsel, Indonesia Lolos!

M. Syahran W. Lubis Jum'at, 11/10/2013 21:57 WIB
Antara
Evan Dimas dkk., kalah selisih satu gol pun dari Korsel masih bisa lolos ke putaran final Piala AFC U-19 di Myanmar tahun depan

Kabar24.com, JAKARTA - Jika Indonesia pada akhirnya kalah atau hanya imbang melawan Korea Selatan dalam pertandingan terakhir babak kualifikasi Piala Asian Football Confederation (AFC) U-19 sehingga hanya menduduki peringkat kedua, maka untuk menentukan lolos tidaknya ke putaran final di Myanmar tahun depan harus diperbandingkan dengan hasil yang dicapai oleh runner up delapan grup lainnya.

Dari sembilan grup, setiap juaranya langsung lolos ke Myanmar, sedangkan enam peserta lainnya adalah enam tim runner up terbaik dari sembilan grup.

Rumitnya, jumlah peserta setiap grup tidaklah sama. Lebih parah lagi, akibat ada beberapa peserta yang menarik diri, Grup E hanya terdiri dari tiga peserta yakni Oman, Palestina, dan Bahrain. Satu peserta lagi, Suriah menarik diri karena kondisi pertikaian di dalam negerinya.

Begitu juga dengan Grup G di mana Indonesia berada. Selain Indonesia sendiri, Korsel, Laos, dan Filipina, sebenarnya semula ada satu tim lagi yakni Guam, wilayah protektorat Amerika Serikat di timur Jepang. Namun Guam lantas mengundurkan diri.

Namun ada beberapa grup yang terdiri dari lima peserta. Akibatnya, sebagaimana dijelaskan dalam situs AFC, untuk membuat perhitungan yang setara, bagi grup dengan lima peserta, hasil pertandingan runner up-nya dengan tim urutan keempat dan kelima tidak diperhitungkan.

Sedangkan bagi grup dengan empat peserta, hasil pertandingan melawan peringkat keempatnya diabaikan. Artinya, hasil pertandingan Indonesia versus Laos yang berakhir dengan skor 4-0 sama sekali tidak diperhitungkan dalam mencari runner up berperingkat enam terbaik.

Pemangkasan perhitungan melawan satu atau dua peringkat terbawah ini memang bisa disesali, namun bisa juga disyukuri.

Dengan perhitungan demikian, kalau main seri saja lawan Korsel, maka Indonesia dipastikan minimal menjadi peringkat keenam dari sembilan runner up setiap grup. Mari perhatikan peringkat di bawah ini.

Dengan telah memangkas hitungan terhadap peserta peringkat keempat (bagi grup dengan empat peserta) serta peringkat keempat dan kelima (bagi grup dengan lima peserta), untuk sementara peringkat antar-runner up adalah sbb:

GrupTimnas U-19MainMenangSeriKalahGolSelisih golPoin
 FAustralia  2    1 0   18-5    +3  3
 AUzbekistan  1    1 0   03-0    +3  3
 HThailand  1    1 0   03-0    +3  3
 IChina  1    1 0   03-1    +2  3
 GIndonesia  1    1 0   02-0    +2  3
 DArab Saudi  1    1 0   02-1    +1  3
 BYaman  2    1 0   13-3     0  3
 CBangladesh  2    1 0   11-6     5  3
 EPalestina  1    0 0   10-1    -1  0

Mari cermati tiga tim terbawah yakni Yaman, Bangladesh, dan Palestina. Yaman menyisakan satu laga lagi melawan peringkat dua terbawah Grup B, Maladewa. Berapa pun hasil kemenangannya tetap tidak dihitung dalam adu ranking runner up antargrup. Kemenangan itu hanya memastikan Yaman jadi runner up Grup B.

Kemudian kita perhatikan lagi Bangladesh di Grup C, Kasusnya sama saja dengan Yaman. Mereka tinggal melawan tim di posisi terbawah, Pakistan. Berapa pun mereka menang, tetap hasilnya tak dihitung dalam adu runner up antargrup.

Sedangkan Palestina, yang ada di Grup E dengan hanya tiga peserta, akan bertemu Bahrain. Setelah kalah dari Oman, maka kemenangan berapa pun lawan Bahrain, poin maksimalnya hanya 3.

Jadi, asal bisa main imbang lawan Korsel, Indonesia pasti lolos ke putaran final Piala AFC U-19 di Myanmar tahun depan.

Bahkan, dengan sedikit hitungan berisiko karena tergantung pertandingan grup lain, kalau pun Indonesia kalah dari Korsel, asalkan tidak dengan selisih lebih dari satu gol, sementara pertandingan di Grup E Palestina versus Bahrain main imbang atau Palestina menang hanya dengan selisih satu gol atau Bahrain menang dengan selisih maksimal dua gol, maka Indonesia tetap lolos ke Myanmar. (Kabar24.com)

Editor: M. Syahran W. Lubis

KOMENTAR